Langsung ke konten utama

BAHAYA MEMUJI SECARA BERLEBIHAN, HAMPIR CERAI


 BAHAYA MEMUJI SECARA BERLEBIHAN

Semua orang pasti pernah memuji sesuatu yang dikagumi. Memuji merupakan hal yang lumrah dilakukan seseorang untuk mengungkakan kekagumannya terhadap sesuatu. Namun ada pepatah yang mengatakan,” Jangan berlebihan dalam memuji dan jangan berlebihan dalam menghina”, hal ini memang benar. Memuji secara berlebihan bisa menyebabkan kemudorotan dan begitupun menghina seseorang secara berlebihan juga menyebabkan akibat yang tidak baik.

Dalam kasus masalah ini pernah dialami oleh seorang laki-laki yang rupawan, gagah, dan kaya raya yang hidup di zaman kekhalifahan Islam dahulu. Lelaki tersebut bernama Isa bin Musa. Lelaki ini sangat mencintai seorang wanita yang sangat cantik di zamanya.

Dengan segala ikhtiar yang dilakukan oleh Isa bin Musa akhirnya dia berhasil menaklukkan hati sang pujaan hati. Dan perasaan cinta pun dimiliki oleh wanita tersebut terhadap Isa bin Musa. Sampai pada akhirnya mereka berdua menjalin hubungan yang lebih yakni sampai pada pentas pelaminan. Dan keduanya telah sah menjadi pasangan suami-istri.

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwasannya istri dari Isa bin Musa merupakan seorang gadis yang paling cantik di masanya. Membuatnya terus menerus mengagumi sang istri dengan melantunkan syair-syair cinta.

Hingga pada sore hari menjelang magrib sang istri berdandan untuk suaminya. Dan Isa bin Musa berkata kepada istrinya,”Wahai istriku tercinta, berdandanlah yang cantik melebihi cantiknya bulan purnama, jikalau wajahmu sampai kalah dengan kecantikan bulan purnama maka engkau akan kujatuhkan talak tiga !.”

Sang istri terkejut mendengan ucapan suaminya dan menegurnya,”Celaka, apa yang engkau katakan, mustahil aku bisa melebihi kecantikan bulan purnama, bukankah bulan purnama terlalu indah dibandingkan aku? Mulai malam ini engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mentalakku”.

Sang istri pun menangis, Isa pun sedih dan menyadari apa yang ia lakukan sudah keterlaluan dalam memuji. Ia pun bingung dan tidak mau berpisah dangan istri yang sangat ia sayangi. Hingga ia mencari solusi dari khalifah yang berkuasa.

Setelah melapor kepada khalifah, masalah ini langsung di cari solusinya oleh sang khalifah dengan mengumpulkan 200 ulama untuk memberikan fatwa tentang masalah yang terjadi. Setelah di diskusikan oleh para alim ulama hasilnya 199 ulama menyatakan bahwa Isa bin Musa telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya, dengan alasan bahwa bulan purnama terbukti lebih indah dari istri Isa bin Musa.

Namun, ada satu ulama yang belum memberikan fatwanya. Sehingga sang khalifah bertanya kepada sang ulama tersebut,” Mengapa kamu tidak setuju dengan pendapat ulama yang lain?.” Ulama tersebut sambil bangkit dari tempat duduknya dengan membaca surah an-Tin ayat 4, Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.

Kemudia ia menjelasakan,”Mnurut pendapat saya, ayat ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling indah dan jauh lebih indah jika dibandingkan dengan bulan purnama.”

Seketika itu semua anggota majelis dan khalifah terdiam mendengarkan jawaban dari ulama tersebut. Kemudian satu persatu ulama menyatakan setuju dengan yang di utarakan ulama tersebut. Akhirnya hal ini membuat Isa bin Musa lega dan keduanya melanjutkan kehidupan dengan bahagia.

Dari cerita di atas dapat kita ambil hikmah yang sangat bermanfaat bagi kita. Antara lain, berhati-hatilah dengan pujian karena tidak semua pujian itu indah. Bisa jadi pujian itu akan menjadi senjata yang memakan tuanya.

Oleh karena itu marilah kita menjaga lisan agar berfikir sebelum berbicara. Lisan bisa tajam melebihi silet dan dapat menghancurkan kehdupan kita. Sekian terima kasih.

Cerita di sarikan dari buku Kisah Sayang Nabi Kisah-Kisah Hikmah karangan Syarif Yahya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa bulan Sya’ban disebut bulan bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw ? Apa Manfaat Sholawat Di Bulan Sya’ban?

  Tidak terasa beberapa bulan lagi kita akan  memasuki bulan Sya’ban dimana memang waktu itu tidak terasa, tiba- tiba sudah sya’ban lagi. Pasti itu yang dirasakan oleh sahabat pembaca? Benar bukan? Itulah pentingnya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dimana Nabi Muhammad Saw. sangat memperingatkan kita dengan waktu. Waktu itu ibarat pedang jika kita tidak bisa memanfaatkanya dengan baik, maka waktu itu tidak bisa dibeli lagi, tidak bisa kembali lagi. Berbicara mengenai bulan Sya’ban banyak sekali keistimewaan di dalamnya, belum lagi fadlilah beramal di dalamnya. Salah satu keistimewaan bulan ini ialah di sebut sebagai bulannya Nabi Muhammad Saw. dimana dalam sebuah keterangan di sebutkan bahwa: ''Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku dan Ramadhan bulan umatku.” Kembali kepada pembahasan judul di atas mengapa bulan Sya’ban di sebut bulan bersholawat kepada Nabi Muhamma Saw. penulis mengutip penjelasan didalam kitab Madza Fi Sya’ban hal 7 Hai’ah Shofwah a...

Keutamaan Sayyidul Istigfar

Sayyidul Istigfar merupakan amalan yang redaksinya langsung dari hadis Nabi Muhammad Saw yang memiliki keutamaan yang luar biasa. Amalan ini sangat di anjurkan untuk di baca setiap hari oleh setiap muslim.  Dari sahabat Syaddad Ibnu Aus dari Nabi Muhammad Saw. : سَيِّدُ الِاسْتِغْفارِ أنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبِّي لا إلَهَ إلَّا أنْتَ، خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ، وأنا علَى عَهْدِكَ ووَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ، أعُوذُ بكَ مِن شَرِّ ما صَنَعْتُ، أبُوءُ لكَ بنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وأَبُوءُ لكَ بذَنْبِي فاغْفِرْ لِي؛ فإنَّه لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أنْتَ. قالَ: ومَن قالَها مِنَ النَّهارِ مُوقِنًا بها، فَماتَ مِن يَومِهِ قَبْلَ أنْ يُمْسِيَ، فَهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ، ومَن قالَها مِنَ اللَّيْلِ وهو مُوقِنٌ بها، فَماتَ قَبْلَ أنْ يُصْبِحَ، فَهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ. Artinya: Sayyidul Istigfar yakni mengucapkan:  "wahai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-M...

Pembahasan Hukum Mengupload Foto di Medsos, Simak Sampai Habis !!!

Oleh : Abdul Wahab Ahmad Boleh tidak mengupload foto di medsos, terutama bagi muslimah? Pertanyaan ini mungkin tidak penting bagi sebagian orang yang cuek soal fikih, tapi sangat penting bagi sebagian lainnya yang ingin beragama dengan baik. Meskipun ini topik yang sangat basi, saya tertarik menulisnya kembali berhubung hal yang sama selalu ditanyakan dari waktu ke waktu. Silakan siapkan camilan yang banyak sebagai teman membaca ulasan yang tetap panjang lebar ini, meskipun sudah berusaha saya singkat setiap poinnya. Dalam berbagai artikel di internet maupun dalam kolom komentar media sosial, mudah kita temukan orang-orang yang mengharamkan upload foto di medsos secara mutlak, terutama bagi muslimah. Demikian juga di beberapa majelis pengajian, kadang ada pemateri yang mengharamkan seorang wanita mengupload foto dirinya di media sosial tanpa memilah kasus per kasus. Bahkan, saya beberapa kali mendengar ucapan bahwa  seorang wanita yang mengupload foto di media sosial sama dengan me...